Pemotretan untuk RS Siloam menjadi proyek terakhir yang kami selesaikan pada tahun 2025. Sejak menerima initial brief pada awal Desember, kami sudah memahami bahwa proyek ini memiliki tingkat kompleksitas yang cukup tinggi. Klien mengharapkan empat buah Key Visual (KV) dengan konsep split scene yang menampilkan environment dari delapan lokasi berbeda. Tantangannya tidak berhenti di situ, seluruh proses produksi juga harus diselesaikan dalam satu hari. Waktu yang singkat, tanpa ruang untuk mengorbankan kualitas.
Client Reference
Konsep split scene dipilih oleh klien karena mereka ingin mengomunikasikan kepada audiens dalam single KV, bahwa berobat di luar negeri akan lebih melelahkan secara fisik dan mental. Berobat akan jauh dari keluarga, memakan waktu yang banyak dan tanpa support system terdekat dibandingkan dengan berobat di RS Siloam. Visual perjalanan yang muram, dingin dan kaku akan dicompare bersebelahan langsung dengan visual perawatan di RS Siloam yang warm, care dan penuh human touch.
Konsep split scene dipilih oleh klien sebagai pendekatan visual untuk menyampaikan pesan yang kuat kepada audiens. Dalam satu frame, dua dunia ditampilkan secara berdampingan. Di satu sisi, perjalanan berobat ke luar negeri digambarkan sebagai pengalaman yang melelahkan secara fisik maupun mental: jauh dari keluarga, memakan waktu perjalanan panjang, dan tanpa kehadiran support system terdekat. Visual ini sengaja dibangun dengan atmosfer yang muram, dingin, dan kaku.Sebaliknya, di sisi lainnya ditampilkan pengalaman perawatan di RS Siloam yang hangat, penuh perhatian, dan sarat dengan sentuhan humanis. Kontras visual ini menjadi elemen utama yang memperkuat narasi bahwa pelayanan kesehatan yang berkualitas juga dapat ditemukan lebih dekat dengan rumah.
3D Modelling
Dengan kebutuhan environment visual yang sangat beragam, mulai dari rumah sakit, bandara, hingga kabin pesawat, kami memutuskan untuk menggunakan pendekatan set berbasis 3D. Metode ini memberikan fleksibilitas dalam tahap perancangan sekaligus memungkinkan berbagai ide dari klien untuk dieksplorasi lebih jauh. Melalui proses ini, ekspektasi visual dapat diselaraskan sejak tahap awal sebelum memasuki hari produksi.
Pendekatan ini juga memungkinkan kami menggabungkan environment digital dengan pemotretan talent yang dilakukan di studio. Selain memberikan kontrol kreatif yang lebih besar, metode ini secara signifikan menghemat waktu dan biaya produksi karena tidak memerlukan pemotretan di banyak lokasi. Namun, di balik efisiensi tersebut, proses ini menuntut perencanaan pre-visualization yang sangat matang agar proses penggabungan atau compositing dapat berjalan secara seamless.Pada tahap ini, kolaborasi antara 3D artist dan fotografer menjadi sangat krusial. 3D artist membangun environment secara digital dengan mempertimbangkan perspektif, arah cahaya, dan atmosfer visual. Sementara itu, fotografer merancang treatment pencahayaan di studio agar foto talent memiliki karakter cahaya yang selaras dengan environment 3D yang telah dibuat.
Tantangan terbesar dalam pendekatan produksi seperti ini hampir selalu datang dari teknik pencahayaan. Setiap pengaturan cahaya harus presisi agar hasil akhirnya terlihat natural dan menyatu. Tanpa pengalaman yang cukup dalam mengelola pencahayaan studio, proses produksi dapat menjadi jauh lebih lama dan hasil visual yang diharapkan sulit tercapai.
Di sinilah pengalaman tim fotografer memainkan peran penting. Konsistensi visual harus dijaga sejak tahap perencanaan hingga proses eksekusi di hari produksi. Ketika semua elemen, mulai dari konsep, pencahayaan, hingga compositing, bekerja selaras, barulah sebuah visual yang kompleks dapat terasa sederhana, natural, dan kuat dalam menyampaikan cerita.
Behind the scene video